Novi Bupati Nganjuk, Hafidz Al Quran Dekat Dengan Rakyat

SURABAYA I Majalah Polisi Indonesia. Jawa Timur yg masih termasuk gudangnya covid 19, ternyata juga gudangnya kepala daerah &wakil . Kali ini kita simak beberapa kesuperan Novi, Bupati Nganjuk (52km lewat tol dari Jombang). Dia masih muda usia (40), ganteng, istrinya cantik, keduanya tak kalah dengan bintang layar kaca.

Dia menjadi Bupati hanya karena gemes, kok kampung halamannya tidak maju- maju. Ketika nyalon tidak pernah membayar mahar ke partai apapun.

Setelah beberapa bulan menjabat ia membuatn gebrakan di malam Tahun Baru 2018. Dikumpulkannya para kepala Dinas untuk diberi hadiah yang tidak biasa, 18 Kepala Dinas diganti pada malam itu juga. Tahun Baru 2019 sang Bupati tancap gas, birokrasi baru kerjanya seperti para manajer perusahaan.

Dia membangun kawasan industri seluas 600 hektar di dekat jalan tol, hanya dalam waktu satu tahun selesai bagaikan cetak kilat foto, sekarang sudah 60 perusahaan yang masuk.

Di Hari buruh diubah menjadi lebih spiritual, malam sebelumnya diadakan sam’an (semacam istighosah) besar-besaran  di kampungnya Marsinah sang pahlawan buruh. Keesokan harinya, pada tanggal 1 Mei tidak ada demo atau pawai buruh, yang ada Haul Marsinah dengan acara khataman Qur’an di masjid-masjid.

Rumah yang kosong disewanya dijadikan gudang dan dikelola Ketua RW (Kepala Lingkungan) untuk mengolah padi menjadi beras, padinya dibeli dari petani dengan harga 10% lebih tinggi dari harga pasar.

Semua pegawai negeri yang muslim harus membayar zakat sedangkan dia menyerahkan seluruh gajinya, selanjutnya dikelola Tim untuk mengatasi kemiskinan.

Tiap Jum’at pindah masjid, khutbah usai Jumatan, bertemu masyarakat untuk mencari tahu adanya rumah yang tak layak huni, kemudian dipugar dengan mengunakan dana zakat.

Setiap kunjungan dia tidak memakai mobil Dinas Bupati. Sebelum jadi Bupati dia sudah kaya, dia punya 36 perusahaan dg 40.000 karyawan yg bergerak di berbagai bidang dari pertambangan sampai perbankan.

Bisnisnya itu dirintis dari bawah dengan membeli plastik bekas untuk dijual ke pabrik pengolah biji plastik, itu dia masih ketika masih sekolah SLTA di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Bisnisnya semakin berkembang ketika kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Dia berbisnis karena terinspirasi ayahnya yg pengusaha hasil bumi, ternak, dan jasa perdagangan yang kini “hijrah”  sepenuhnya hanya mengurus Pesantren di Kediri yang didirikan ayahnya itu. 

Ke 5 anaknya penghafal Qur’an mengikuti Novi dan istrinya yg hafidz. Bahkan anak sulungnya kuliah di Darul Mustofa Yaman. (Disway)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply